Karya : bouo
Awal bermula pada goresan tinta
Ku gores canva dengan tinta berwarna merona, setiap tetesan tinta yang beralas canva, menceritakan awal mula tentang dia.
Dari nama, muka serta sikap-sikap nan bijaksana. Mengingat senyum ia mempesona, membuatku lupa akan dunia.
Sungguh aku telah ternoda, sebab ia mempesona, bisa buat aku jadi cinta.
Dalam hati. Ku berkata, wahai nona sungguh kau mempesona.
Aku gores tinta pada canva, yang berwajah persis kau nona.., sembari ku berkata "semoga saja tuhan mentakdirkan nona untuk mencinta dan kucinta".
Jika ku kata pada nona bahwa aku cinta, sesungguhnya itu bukan cinta.
Sebab cinta ku hanya kata, kata bisa saja punah dimakan waktu. Tapi cintaku bukanlah fana, melainkan nyata.
Segala cinta ku ungkap pada canva yang kugoreskan tinta-tinta, ragam warna tinta yang ku punya, entah itu ceria, luka, suka, maupun nona yang mempesona.
Sungguh tak logika, jika aku menyimpan cinta terhadap nona.
Apalagi dalam selembar canva yang berlukis nona, dan hanya aku satu-satunya insan yang mengetahuinya.
Ya, moga saja kita adalah yang terencana dari yang maha perencana.
Entah ditakdirkan bersama, atau sekedar bercengkrama. Tak dapat ku tebak pasti apa rencana yang maha.
Kesan penutup adalah bukti nyata cinta.
Terimalah canva, sebab kau telah bersedia menjadi bukti-bukti isi hati.
Dan terimalah tinta, sebab kau menjadi saksi-saksi atas apa yang ku ke-hendaki.
Terakhir nona, kau akan mengetahui atas apa yang harus kau ketahui, dan kau akan mulai mencerna atas apa yang dinamakan cinta, sungguh di luar sana beragam pendapat tentang cinta yang terus terkata-kata.
Terimakasih tinta dan canva, kau telah berperan baik atas cinta.
Tak banyak yang ku curahkan detail cinta ku pada canva, sebab aku bisa saja lupa, bahwa aku bisa luka karena terlalu asa dengan nona.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar